Minggu, 06 Mei 2012

Temen-temenanan (bersungguh-sungguh)

Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase lawan kas, tegese kas nyamkosani. Setya budya pangekese dur angkara
Artinya:
Ngelmu (ilmu) itu hanya dapat dicapai dengan laku (mujahadah), dimulai dengan niat yang teguh, arti kas menjadikan sentosa. Iman yang teguh untuk mengatasi segala godaan rintangan dan kejahatan.

Rabu, 21 Maret 2012

Pesan Sayidina Ali k.w

Siapa yang tidak ada padanya sunnah Allah, sunnah Rasul dan sunnah wali-Nya, maka tiadalah apa-apa kebaikan padanya. Ditanya orang pada Sayidina Ali k.w., “Apakah sunnah Allah?” Sayidina Ali menjawab, “Menyembunyikan rahsia (misalnya menutup aib orang lain).” Ditanya lagi, “Apakah pula sunnah Rasulullah?” sayidina Ali berkata, “Berlemahlembut dengan sesama manusia.” Ditanya lagi, “Apakah pula sunnah wali-Nya?” Sayidina Ali menjawab, “(Sabar dalam) menanggung penderitaan.”

Jumat, 17 Februari 2012

Indahnya hidup

ya Rabb...
ketika aku berdoa ingin KAYA, ternyata aku lupa bahwa hidup ini adalah sebuah KEKAYAAN.
Saat aku takut MEMBERI, ternyata aku lupa bahwa semua yang aku miliki adalah PEMBERIAN.
Ketika aku ingin jadi yang TERKUAT, aku juga lupa bahwa dalam diriku ada KELEMAHAN. 

ya Rabb...
Dalam DO'A dan HARAPAN, aku bersyukur karena hidup adalah sebuah KEBERUNTUNGAN, karena aku terlahir sebagai manusia yang masih mengenal-Mu sebagai Rabb ku, dan bisa memandang bahwa hidup ini INDAH saat setiap detik perjalanan hati terbalut SYUKUR yang tiada kesudahan.

Sabtu, 21 Januari 2012

27wejangan sang Budha Chi Kung

  • Seluruh kehidupan telah diatur oleh penguasa. Apalah yang mau dimohon?
  • Hari ini tidak tahu masalah esok. Apalah yang mau di kuatirkan?
  • Kalaulah tidak menghormati orang tua, lalu mengormati junjungan dunia. Apalah arti penghormatan itu?
  • Kakak adik adalah bersaudara. Apalah yang perlu diperebutkan?
  • Anak cucu punya rezeki masing-masing. Apalah yang perlu diperebutkan?
  • Kalau belum mendapat keberuntungan. Apalah yang perlu dipaksakan?
  • Didunia ini sulit menemukan kebahagiaan. Mengapa harus sedih?
  • Berpakaianlah yang sederhana dan sopan. Apalah yang mau dipamerkan?
  • Bagaimana lezatnya makanan, hanyalah sebatas lidah. Mengapa harus rakus?
  • Setelah meninggal tidak sesen pun yang dibawa. Mengapa harus pelit?
  • Senior meluku, junior memetik. Apalah yang mau diperebutkan?
  • Disatu sisi mendapatkan, disisi lain kehilangan. Mengapa harus serakah?
  • Tiga jengkal diatas kepala ada dewa. Mengapa harus mengelabui?
  • Kedudukan, kekayaan, kemuliaan bagaikan mekarnya bunga. Apalah yang mau diangkuhkan?
  • Kekayaan dan kemuliaan orang telah dirintis sebelumnya. Mengapa harus iri?
  • Kehidupan lalu tidak membina, sekarang menderita. Mengapa harus mengeluh?
  • Orang berjudi tidak akan ada hasil yang baik. Apalah yang mau dipermainkan?
  • Membina rumah tangga dengan rajin dan hemat melebihi memohon bantuan orang lain. Apalah yang mau diboroskan?
  • Kalau saling membalas dendam, kapanlah akan berakhir. Mengapa harus bermusuhan?
  • Masalah dunia bagaikan bermain catur. Apalah yang mau diperhitungkan?
  • Orang pintar adakalanya disesatkan oleh kepintarannya? Mengapa harus licik?
  • Berdusta akan mengikis habis rejeki seumur hidup. Mengapa harus berdusta?
  • Segala kesalahpahaman akhirnya akan jernih juga. Apalah yang mau diperdebatkan?
  • Tiada seorangpun juga yang bebas dari masalah. Mengapa harus menyalahkan?
  • Goa nurani didalam hati manusia, bukan digunung. Apalah yang mau dicari?
  • Menipu orang adalah petaka, memaklumi orang adalah berkah. Apalah yang mau diramalkan?
  • Sekali ajal menjemput segala akan berakhir. Apalah yang terus disibukkan?
Menjadi baik adalah tujuan sedangkan menghilangkan sifat fanatik adalah jalan meraih tujuan.

Kamis, 20 Oktober 2011

Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar)

“Allahumma anta rabbi laa ilaha illa anta kholaqtani  wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu a’udzubika min syarri ma shona’tu abu-u laka bini’matika ‘alaiyya wa abu-u bidzanbi faghfirli fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta
(Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tiada ilaha selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hambaMu dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepadaMu dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmatMu yang tercurah kepadaku; dan aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan. Karenanya, ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).”