Minggu, 08 Mei 2011

PESAN BIJAKSANA

Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya. ~ Alexander Pope
Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum. ~ Mahatma Gandhi
Pengetahuan tidaklah cukup, maka kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup, maka kita harus melakukannya. ~ Johann Wolfgang von Goethe
Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun. ~ Bung Karno

Hakekat Ketakutan dan Keberanian

Keberanian dalam Ketakutan. Rasa takut atau Ketakutan merupakan suatu kondisi alamiah yang tumbuh dan berkembang dalam diri setiap makhluk termasuk manusia. Rasa takut tersebut merupakan bukti dari kasih sayang Allah swt kepada makhluk ciptaannya-Nya untuk melindungi dirinya dari bahaya yang mungkin akan mencelakai serta dengan rasa takut tersebut akan memberikan pengalaman baru bagi makhluk yang mengalaminya. Apabila dalam diri sesorang manusia sudah tidak ada lagi rasa takut, itu salah satu pertanda dari perkembangan fisikologis yang yang tidak seimbang dalam diri manusia itu. Sehingga rasa takut tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu parameter dalam menguji kesehatan jiwa seseorang secara fisikologis
Dengan adanya rasa takut tersebut, manusia dibimbing oleh Sang Khalik untuk bersikap dan bertindak hati-hati secara wajar dalam megarungi kehidupannya. Namun demikian sebagaimana halnya dengan berani atau keberanian, rasa takut yang tumbuh secara berlebihan pada seseorang ternyata bukan lagi merupakan sebuah proteksi dari kehati-hatian, tapi lebih bersifat beban dan penghalang seseorang untuk meraih sesuatu keberhasilan. Keberanian yang terlalu berlebihan akan sama maknanya dengan Nekat yang lawannya adalah Penakut.
Tidak ada seorang pun manusia yang diciptakan Allah swt sebagai makhluk yang penakut. Rasa takut yang berlebihan tersebut kebanyakan merupakan sebuah kondisi yang tidak sengaja ditularkan oleh orang-orang disekeliling kita dalam waktu yang lama pada masa lalu dan terus berulang pada setiap kondisi dan keadaan yang lain, sehingga akumulasi dari ketertularan rasa takut dari masa lalu itu telah membentuk sebuah penghukuman terhadap diri kita sendiri dengan secara mengatakan bahwa saya adalah seorang yang penakut.
Dengan bermodal julukan sebagai seorang yang penakut tersebut, kita telah berhasil membatasi diri kita untuk hanya terlibat dalam hal-hal yang tidak membuat kita takut, sementara orang-orang yang telah berhasil mengesampingkan rasa takutnya terus terlibat dalam hal-hal yang menyenangkan dan terus berbuat menjemput keberhasilan. Seorang pahlawan tidak diciptakan tanpa rasa takut, tapi seorang pahlawan terlahir setelah berhasil mengesampingkan rasa takutnya dan berbuat sebagaimana layaknya seorang yang tidak mempunyai rasa takut sampai dia dikatakan sebagai seorang pemberani.
Adalah mustahil untuk membuat diri kita yang sudah terlanjur senang dengan julukan sebagai seorang penakut menjadi seorang pemberani, namun bersikap seolah-olah diri kita sebagai seorang pemberani akan mampu memberikan pengalaman bahwa ternyata terlalu banyak potensi yang ada dalam diri kita yang selama ini telah terbatasi oleh rasa takut itu. Selanjutnya dengan mempertahankan sikap layaknya seorang pemberani, secara pelahan-lahan akan timbul suatu kesadaran kalau ternyata kita bukan seorang yang penakut.
Senangkan dan bahagiakanlah diri anda dan keluarga anda dengan tampil sebagai seorang yang menularkan keberanian kepada mereka. Jangan pernah mengembangkan rasa takut pada jiwa mereka, terutama pada anak-anak yang masih polos. Sesungguhnya seorang anak yang baru dilahirkan itu dalam keadaan putih bersih ibarat kertas putih yang masih kosong. Tanpa sedikit pun coretan tinta yang melekat padanya. Sebagai orang tua, tugas kitalah yang pertama menggoreskan warna apa yang kita inginkan pada kertas itu dan mau seperti apa anak tersebut kelak. Semua terserah kita
Apabila digores dengan tinta keberanian, maka tumbuhlah anak tersebut menjadi seorang anak pemberani dan apabila dogores dengan terlalu banyak pembatasan-pembatasan yang menghambat tumbuh dan berkembangnya sebuah keberanian dalam diri anak, maka berarti kita telah berhasil menularkan rasa takut yang ada dalam diri kita kepada anak dan menciptakan seorang anak yang jauh dari sifat keberanian.
Apabila seorang ibu di depan anaknya tidak mampu menyembunyikan rasa takutnya terhadap serangga misalnya, secara langsung telah menularkan rasa takut tersebut terhadap anaknya, tapi apabila seorang ibu yang bersikap seolah-olah berani dan membunuh atau mengusir serangga tersebut di depan anaknya setidak-tidaknya dia telah berhasil melaksanakan dua hal penting pada saat itu yaitu bersikap sebagaimana layaknya seorang yang berani sampai dia benar-benar berani dan secara langsung telah berhasil menularkan sebuah keberanian kepada anaknya.
Dengan sedikit modal keberanian untuk mengesampingkan rasa takut yang ada pada hakikatnya kta telah mengundang sebuah keberanian yang lebih besar untuk mengabaikan semua rasa takut lain yang telah memenjarakan kita dalam pembatasan-pembatasan yang sebetulnya tidak perlu. Rahmat dan Kasih Sayang Allah swt tidak akan datang menghampiri orang yang selalu membatasi dirinya dengan ketakutan, tapi Rahmat dan Kasih sayang itu lebih banyak diberikan kepada orang-orang yang senantiasa terus berjuang meraih kemuliaan dirinya sampai pada akhirnya kemuliaan itu melekat dalam jiwanya. Jadilah dia orang yang mulia dengan kemuliaan Allah swt.
Takut menghadapi sebuah resiko yang belum tentu akan datang, telah melahirkan banyak orang-orang putus asa dan menyengsarakan dirinya dengan penyesalan dan rasa iri atas keberhasilan yang diraih oleh orang lain yang pada awalnya orang tersebut sama penakutnya dengan dia. Tapi dengan sedikiti keberanian untuk bersikap seakan-akan berani, maka orang tersebut telah ikhlas mempersiapkan dirinya untuk menerima pengalaman baru sebagai seorang pemberani.
Keberanian itu tidak selalu harus dibuktikan dengan berani mati, tapi kadang-kadang keberanian itu harus dibuktikan dengan berani untuk tetap hidup.

Senin, 18 April 2011

HAKEKAT MENOLONG

Orang Bijak Mengatakan, “ Sesungguhnya jika kita berbuat kebaikan,

Kita BUKAN hanya sedang membantu orang atau mahkluk lain,

Namun sesungguhnya kita sedang membantu diri kita sendiri agar menjadi lebih bahagia.

Temukan kebahagiaan dengan memberi “

MAQOM SEORANG HAMBA DALAM KEHIDUPAN DUNIA


“Kehendakmu menggapai maqom tajrid padahal Allah s.w.t mendudukkanmu di maqom asbab, hal itu merupakan kehendak syahwat yang halus. Dan kehendakmu menduduki maqom asbab padahal Allah s.w.t mendudukkanmu di maqom tajrid berarti engkau telah turun dari tingkat derajat yang tinggi”.
Barangsiapa mengenal dirinya berarti mengenal Tuhannya. Begitulah bunyi sebuah ungkapan dari Hadits Nabi s.a.w. Oleh karena itu, manusia harus mengenal dirinya sendiri. Dalam kaitan mengenal diri sendiri ini, mengenal maqom hidup adalah bagian terpenting yang harus dilakukan manusia. Dengan mengenal maqom hidup, seorang hamba akan mampu mengisi segala aktifitas pengabdian hidupnya dengan benar, baik bagi diri sendiri, lingkungan maupun kepada Tuhannya. Apabila maqom hidup itu tidak dikenali, manusia akan mengalami kebingungan sehinga menjadi terjerumus dalam kerugian hidup yang fatal.
Maqom hidup itu ada dua, pertama: maqom tajrid dan kedua maqom asbab. Yang dimaksud maqom tajrid adalah ‘kedudukan hidup’, di mana dengan kedudukan itu sumber rizki (kebutuhan hidup) manusia dimudahkan oleh Allah s.w.t. Sumber kebutuhan hidup itu didatangkan dengan tanpa dicari dan diikhtiari. Meskipun datangnya rizki itu melalui sebab-sebab, namun sebab-sebab itupun merupakan sesuatu yang didatangkan dengan mudah.
Sebagai contoh kehidupan para ‘ulama suci lagi mulia. Setiap hari kegiatan mereka hanya mengurus santri dan murid-murid serta jama’ahnya, sehingga tidak kebagian waktu untuk memikirkan sumber rizki secara lahir. Namun ternyata kebutuhan hidup mereka mendapat kecukupan. Bahkan terkadang melebihi kecukupan hidup orang-orang yang setiap hari sibuk mencari nafkah. Dengan maqom tajrid itu, seorang hamba yang ‘arifin hanya membaca sebab-sebab yang didatangkan, kemudian ditindaklanjuti dengan amal (ikhtiar).
Adapun maqom asbab, adalah suatu maqom dimana rizki seseorang tidak didatangkan kecuali melalui sebab-sebab yang diusahakan dan diikhtiari sendiri. Mereka tidak mendapatkan sumber kehidupan kecuali dari jalan ikhtiar yang dilakukan. Untuk itu mereka harus berikhtiar dan berusaha. Mencari dan menciptakan peluang supaya terbuka sebab-sebab baginya untuk mendapatkan rizki hidup. Setelah sebab-sebab itu terwujud, baru ditindaklanjuti dangan amal. Hal itu seperti merupakan keadaan yang dialami kebanyakan manusia.
Apabila kedua maqom tersebut dikaitkan dengan “usaha dan tawakkal”, sebagaimana yang diperintahkan Allah s.w.t dalam firman-Nya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (ber’azam), maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. Ali Imran; 159). Maka orang yang duduk di maqom tajrid adalah orang yang bertawakkal terlebih dahulu baru berusaha.
Maksudnya, dengan segala pengabdian hidup yang mereka jalani sebagai seorang tajrid, mereka juga harus mampu membaca keadaan. Ketika realita menunjukkan sebab-sebab untuk terbukanya sumber penghidupan, baru mereka ber-azam untuk menindaklanjutinya dengan ikhtiar.
Berbeda dengan orang yang duduk di maqom asbab. Orang tersebut harus ber-azam dahulu untuk membangun suatu sumber kehidupan, baik dari memulai menciptakan sebab-sebab sampai menindaklanjuti sebab itu dengan usaha dan perjuangan. Setelah usaha hidup itu berjalan dengan baik, untuk hasilnya, baru kemudian mereka bertawakkal.
Ibarat seorang permainan bola di lapangan, usaha hidup seorang tajrid adalah seperti orang yang menunggu bola datang. Setelah bola itu datang dan dikuasai, mereka kemudian harus memasukkannya ke gawang musuh. Sedangkan orang yang menerapkan maqom asbab, dari awal mereka harus mempunyai inisiatif penyerangan untuk menguasai bola, menggiring dan kemudian memasukkannya ke dalam gawang musuhnya. Jadi maqom tajrid ini bertawakkal dahulu baru berusaha sedangkan maqom asbab, berusaha dahulu baru bertawakkal.
Jangan Ingin Pindah Dari Satu Maqom Ke Maqom Lain
Asy-Syekh Ibnu Ath-Tho’illah r.a berkata: “Kehendakmu untuk menggapai maqom tajrid padahal Allah mendudukkanmu di maqom asbab merupakan kehendak syahwat yang halus. Dan kehendakmu untuk menduduki maqom asbab padahal Allah mendudukkanmu di maqom tajrid berarti telah turun dari tingkat yang sangat tinggi”.
Maqom tajrid adalah maqom yang mulia, merupakan karunia besar yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Namun demikian, ketika pemiliknya masih hidup di dunia, keadaan tersebut, baik urusan ukhrawi maupun urusan duniawi, akan mengalami gejala sebagaimana sifat kehidupan dunia pada umumnya. Yakni terjadi pasang surut seperti pasang surutnya air laut.
Ketika tajridnya sedang naik, maka rizki orang tajrid itupun ikut naik. Rizki mereka didatangkan bagaikan air laut yang sedang pasang. Sumbernya memancar terus-menerus seakan tidak bisa putus lagi. Namun ketika tajridnya sedang turun, mereka terkadang bahkan mengalami kekeringan yang amat sangat. Seperti musim kemarau panjang yang seakan tidak turun hujan lagi. Keadaan seperti ini bagi seorang tajrid merupakan bentuk ujian yang sangat berat. Betapa tidak, ketika dia harus menghadapi desakan kebutuhan realita yang tidak dapat dielakkan. Menghadapi tuntutan kebutuhan hidup sebagai seorang kepala rumah tangga. Mereka melihat kesulitan hidup yang dihadapi anak-anak dan istrinya, bahkan kadang-kadang dihadapkan pada masalah yang berat, anaknya sedang sakit keras misalnya. Padahal sedikitpun dia tidak dapat berusaha untuk membawanya ke rumah sakit karena tidak tersedianya sarana dan dana. Dalam keadaan seperti itu, seorang tajrid tetap harus menunggu sebab yang datang. Mereka tidak boleh mengusahakan datangnya sebab itu meski dihadapkan dengan kematian.
Seandainya mereka masih menduduki maqom asbab, barangkali masih dapat berusaha, walau hanya untuk mendapatkan pinjaman dari makhluk misalnya. Akan tetapi di maqom tajrid hal tersebut tidak boleh dilakukan. Ketika sebab-sebab yang pertama tidak sedang berada di depan mata, datangnya sebab tersebut tidak boleh diharapkan dan diusahakan dari makhluk. Apabila hal itu dilakukan berarti akan menurunkan mereka pada derajat maqom asbab.
Seorang maqom tajrid hanya dapat menunggu kepastian yang akan terjadi. Apapun keadaannya, yang demikian itu lebih baik baginya daripada harus menyandarkan harapan kepada makhluk. Hal itu sebagai konsekuensi maqom yang diduduki tersebut. Untuk itu, dalam keadaan yang bagaimanapun mereka harus mampu menentukan pilihan hidup, mana yang boleh diusahakan dan mana yang tidak.
Seorang tajrid harus mampu meredam gejolak hatinya sendiri. Sedikitpun mereka tidak boleh menyandarkan harapan untuk mendapatkan pertolongan kepada sebab-sebab, akan tetapi hanya kepada yang menyebabkan sebab-sebab. Meskipun ketika Allah menurunkan pertolongan-Nya, tentunya pertolongan itu datang melalui sebab-sebab. Namun demikian, datangnya sebab-sebab itu bukan dari arah yang dikehendaki dan bukan pula dari usahanya sendiri. Menghadapi keadaan seperti itu, kadang-kadang hati mereka sempat menjadi goyang, bahkan hampir-hampir putus asa.

JALAN MUDAH MENGHADAPI HIDUP

JUJUR DALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN ITU SANGATLAH BERAT.
TETAPI DENGAN JUJUR, HIDUP AKAN TERASA SANGAT RINGAN DAN MUDAH.